JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau melemah pada perdagangan Selasa (5/5/2026) pagi. Berdasarkan data RTI Infokom pukul 09.15 WIB, rupiah terkoreksi 0,09% ke level Rp17.400. Pergerakan hari ini diprediksi akan terus berada di rentang sensitif Rp17.390 hingga Rp17.440 per dolar AS.
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyoroti tiga faktor krusial yang menekan mata uang Garuda:
1. Ketegangan di Timur Tengah: Konflik bersenjata di Iran yang berujung pada penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar. Penutupan jalur logistik vital ini mengakibatkan lonjakan harga minyak mentah dunia yang memicu inflasi global.
2. Konflik Ukraina-Rusia: Ketegangan yang berlanjut di Eropa Timur terus mengganggu stabilitas produksi minyak, memperparah krisis energi global.
3. Kondisi Manufaktur Domestik: Data PMI Manufaktur Indonesia menunjukkan kontraksi. Hal ini dipicu oleh tingginya biaya impor bahan baku akibat kenaikan harga minyak dunia, yang pada akhirnya membebani sektor industri nasional.
Pelemahan tidak hanya dialami rupiah. Mayoritas mata uang Asia juga menunjukkan tren serupa pada pagi ini:
Baht Thailand: Melemah 0,46%
Won Korea: Melemah 0,25%
Yuan China: Melemah 0,06%
Dolar Singapura: Melemah 0,05%
Dolar Taiwan: Menguat 0,11% (satu-satunya yang menguat di regional)
Kondisi pasar saat ini sangat bergantung pada perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah. Jika harga minyak mentah terus merangkak naik, tekanan terhadap inflasi dan nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek. (B)



