BANTEN — Kecintaan terhadap tanah air dapat diekspresikan melalui berbagai cara dan media. Wujud nyata pengabdian dan cinta kepada Indonesia ditunjukkan oleh Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Angkatan 2003 (Ikatan Alumni Gontor / IAG 2003) melalui kegiatan pendakian dan pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih di puncak Gunung Karang, Banten.
Bagi para alumni Gontor 2003, kegiatan bertajuk “Kami Tidak Sekadar Mendaki, Kami Meninggikan Negeri” ini bukan sekadar agenda rekreasi atau upaya menaklukkan ketinggian alam. Lebih dari itu, pendakian ini dimaknai sebagai simbol perjuangan spiritual dan moral untuk terus memuliakan serta meninggikan martabat bangsa Indonesia.
Di bawah terik matahari dan jalur pendakian yang terjal, para peserta membawa serta semangat kebersamaan dan kecintaan yang tak pernah usang kepada ibu pertiwi. Puncak Gunung Karang, yang berdiri megah di tanah Banten, menjadi saksi bisu berkibarnya Sang Saka Merah Putih dengan penuh khidmat, diiringi doa-doa yang dipanjatkan dari ketinggian demi kejayaan bangsa.
Perwakilan Alumni Gontor 2003 menyampaikan bahwa kegiatan ini mengandung pesan mendalam mengenai esensi nasionalisme. Kecintaan kepada bangsa harus terus diperjuangkan dengan melewati berbagai tantangan seperti halnya rasa lelah mendaki gunung, mengalahkan ego pribadi, dan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan.
”Indonesia tidak dibangun hanya oleh mereka yang pandai berbicara tentang cinta tanah air, tetapi juga oleh mereka yang memilih untuk menghadirkannya dalam karya, pengabdian, dan keteladanan,” ungkap perwakilan IAG 2003.
Melalui aksi nyata di puncak Gunung Karang ini, Alumni Gontor 2003 ingin menyampaikan pesan moral kepada masyarakat luas bahwa Merah Putih tidak hanya layak berkibar di tiang-tiang upacara formal, tetapi harus senantiasa bersemayam dan berkibar di dalam hati setiap anak negeri.
Kegiatan ditutup dengan harapan agar Indonesia senantiasa menjadi bangsa yang besar, lahir dari tangan anak-anak bangsa yang tidak pernah lelah berkorban, berkarya, dan meninggikan martabat negeri—setinggi doa yang dipanjatkan dari puncak-puncak pengabdian. (**)



